Wednesday, 12 March 2008

Manusia-manusia dan Aku

Manusia-manusia berikut ini, akan banyak ditulis dengan inisial atau nama panggilan dariku.

Latar belakang :
1. Gebetanku (yaelah, masi jaman yaa gebetan) PB ngakunya kagak suka baca. Aku jelas suka banget baca.
2. Kebanyakan nonton infotainment. Penting tuh sebenernya infotainment. Kata majalah cosmo, membahas hal tidak penting adakalanya baik untuk kesehatan mental (serius siah, gue...).
3. Hobi ngobrol. Orang-orang ajah pada cerita. Akunya sih seneng dengerin orang cerita. Abisnya kadangkala bingung mau cerita apa.

Nah, jadi... Begini ceritanya...
  • Aku suka baca apalagi kalo bacaannya menyenangkan dan memberitahukan hal baru buatku. berlaku juga dengan ngobrol. Aku suka ngobrol apalagi kalo aku bisa tau sesuatu yang baru dari obrolan itu. Bisa apa aja sebenarnya. Sedangkan infotainment bisa jadi penting untuk membuka percakapan.
  • Ratu Medusa bilang, definisi selebritis adalah public pigure. Jadi, berita meninggalnya Bapak Soeharto masuk infotainment harusnya bukan hal aneh. Kata Meymoy. Nah, PB itu suka bola dan pengen jadi pemain bola. Hari gini tuh yaa, pemain bola bisa lebih tajir alias kaya dari artis atau pengusaha. Dengan catatan, di luar negeri yaa... Kayaknya, aku skeptis aja gitu dengan nasib atlet di Indonesia. Iyeh, sok tau gue...
  • Cerita lanjut ke Nadine Chandrawinata. Kemarin-kemarin aku sempat mikir kalo dia itu engga penting. Tapi aku nonton infotainment dan ternyata nadine lagi berbuat hal penting. Dia nulis buku fashion laut. Apa yaa, semacam itu lah. Jadi, ada foto-foto dia dengan busana daerah, asli diambil di dalam air laut. Dan dia juga bercerita tentang laut yang notabene sebagian dari kekayaan alam negara kite tercinta. Yang kata Nadine, dia sebisa mungkin memakai baju dengan warna alami agar foto yang dihasilkan tidak terkesan tempelan. Dan mengusahakan aktivitas foto dan pembuatan bukunya itu tidak merusak alam.
  • Cerita beralih ke Chahdora. Dia salut ama Luna Maya. Aku bilang aku engga begitu suka dia. Tapi, kami sepakat bahwa distro alias dian sastro lebih engga penting lagi. Entah sih, bagi aku distro tuh suka berasa sok penting. Lepas dari usahanya meniadakan lembaga sensor pelem indonesia, distro benar-benar engga penting. buat Chahdora, luna Maya is such an inspiring girl. Luna Maya, tidak memilih jalan seperti Mayang Sari, jadi istri kedua. Luna Maya, dengan usia yang tidak beda dengan kami, produktif dengan usaha cafe-nya. Lhah aku, kata Chahdora, masi aja ngurusin kelulusan yang belom juga didapat. Yeh, itu sih aku juga lagi ngurus dodol...
  • Kmbali ke topik semula. Adalah mudah bagi seorang Luna Maya untuk mencari lelaki tajir untuk menghidupinya. Lepas dari berita tentang dia dan Ariel Peterpan, Luna Maya dan Cafe itu menginspirasi Chahdora.
  • Tentang distro yang engga penting ingin meniadakan LSF, aku sempat ngobrol dengan MamihGerm-O. Kami sepakat bahwa bukan LSF yang harus ditiadakan, tapi kerja LSF itu yang harusnya diperbaiki. Eta LSF sebaiknya jangan maen potong gambar seenaknya. Memang LSF diperlukan. Manusia tanpa aturan mau jadi apa. Tapi, aturan khan dicitakan untuk dilanggar ya Mam? Idem, pasti Mamih bakalan bilang gitu. hohoho...
  • Tentang pelem. Masih kuciwa dengan dua pelem dari novel yang kutonton. Cintapucino dan Ayat-ayat Cinta. Tapi, Ayat-ayat Cinta masih mendingan. Yang kurang itu menurutku, lebih kena greget emosi dari baca kata-kata dalam novel daripada nonton gambar dalam pelem.
  • Hasil ngobrol liwat telepun dengan Anjingganteng dan Pithecantropuserektus memiliki satu benang merah. Aku itu engga jelas. Absurd dong? Halah halah...Jadi benar, semakin kita dekat dengan seseorang kadangkala penilaian kita tentang orang itu menjadi subyektif. Tapi, engga kenal juga kadang penilaian tetap bisa subyektif.
  • Bicara tentang subyektivitas penilaian terhadap orang, kadangkala aku jahat menganggap orang lain tidak penting. Tapi, aku membela diri dengan alasan bahwa apa yang dipermasalahkan oleh orang itu adalah hal yang membatasi dirinya sehingga hidupnya tidak maju-maju. Aku sempat menyinggung tentang pikiran sampah ini pada tulisan sebelumnya. Udah baca khan pastinya. Yaelah, siapa gue?

Kesimpulan:
Aku pembaca sampah. Aku pendengar sampah. Daripada busuk engga keruan, aku daur ulang jadi bahan obrolan dan tulisan baru yang semoga menarik para pembaca untuk berkomentar.

3 Comments:

Anonymous Anonymous said...

perasaan kyky buku diary .... tp tetep ngerti d baca n unik...kyknya klo d buat buku sepertinya laku buat org2 yg stress akibat kersnya dunia [smbil senyam-senyum gt]

8:51 am, March 15, 2008  
Anonymous leksa said...

eta yang nyampah penceritanya ? atau pendengarnya, mbok?

salam kenal...

3:05 pm, April 11, 2008  
Blogger ireng said...

ada banyak pikiran yg terlintas rupanya, coba dipisahkan sedikit-sedikit lalu dirangkum menjadi sebuah tulisan yg apik. then, u'll gonna be the next djenar.

:)

5:04 am, May 22, 2008  

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home