Wednesday, 21 January 2009

Senioritas Bertopeng Umur

Suatu ketika, seorang teman dari komunitas nulis berkata : "gue denger laporan kalo elo kalo komentar ga pandang umur yah?"

Mari kita namai dia Nisa Gendut, padahal badannya kurus. Hehehe... Komentar yang dia maksud adalah untuk pelbagai catatan yang ada di debuah situs pertemanan yang kami berdua ikuti.

Lantas saya tanya balik : "ada masalah?"

Dan ia menjawab dengan pertanyaan : "lah, elo ngerasa ada masalah engga?"

Maka saya kembalikan pertanyaannya dengan pernyataan : "justru karena itu banyak pertanyaan untuk menjadi teman gue"

Nisa Gendut tertawa seraya menambahkan : "itulah, elo kebanyakan Nginggris sih. tau sendiri di Indo masih berlaku batasan umur"

Apa yang saya bicarakan dengan Nisa Gendut? Jenjang umur terhadap cara bicara.

Singkatnya begini, di Indonesia batasan umur masih menjadi hal penting demi alasan kesopanan. Beda halnya dengan di Inggris atau negara-negara Eropa lainnya termasuk Amerika yang juga menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa nasionalnya.

Yang saya pertanyakan, benarkah semua alasan kesopanan itu? Adakalanya batasan usia bukan semata demi kesopanan, tapi demi menjaga ego alias senioritas. Semacam, mental terjajah efek dijajah Belanda dan Jepang dahulu kala, sejak lama.

Senioritas macam apa sih? Yah, itu lhoh. Ketika mereka yang merasa karena sudah tua atau sudah memiliki jamterbang tinggi lantas mennganggap orang-orang yang lebih muda dan kurang jam terbang, dibanding dia, lebih tidak tau apa-apa. Padahal, asumsinya apa? Hanya jika dibanding dia kan? Yang lebih idiotnya lagi, kerna efek senioritas itu maka tidak mau menerima masukkan. Alias, menurut versi kalimat saya : bener apa kata dia doang. Efek lainnya, timbullah rasa sombong. Yah, ini hal terparah dalam kehidupan. Sombong dalam artian negatif, bisa membunuh. Jika sombong untuk mempertahankan harga diri, saya kira sah-sah saja.

Hey, bung. Di atas langit masih ada langit. Bukankah mereka yang tidak tahu adalah orang-orang terpandai - melebihi mereka yang (merasa) tahu. Ah, terkesan seperti sentimen pribadi memang. Dan, sekedar informasi, jika tidak salah mengingat, kalimat yang dicetak tebal dan berwarna itu adalah semacam kutipan dari Socrates, seorang filsuf era keemasan Yunani.

Maka dari itu, saya tetap mempertahankan budaya Bebaskan Jenjang Umur. Saya tidak butuh kesopanan yang menjilat. Sopan santun, bisa dilakukan dengan cara lain selain lewat GAP (beda) usia. Meski, tidak saya pungkiri ketika berbenturan dengan aturan dan segala norma lain yang berlaku, adakalanya saya harus menelan kembali ide brilian saya untuk membasmi kesopanan palsu atas nama umur.

Dan ternyata, saya baru ingat ada acara di Metro Tipi tentang Suara Anak untuk Lingkungan Hidup. Pas di situs pertemanan saya menemukan sebuah berita tentang anak kecil yang membuat Environmental Children's Organization.

Saya sampe bela-belain mengedit tulisan saya. Benar memang kata iklan roko : Yang Tua Baru Boleh Bicara diberi tanda tanya (eh, bener gitu iklannya kyk gitu? maap yak hehehe...)

6 Comments:

Blogger Mbah Kuntet Dilaga said...

hehehe..

Kasih link buat nisa ah, biar dia ngebaca..
xixixix

Nggak ding! becanda doang..

11:58 pm, January 21, 2009  
Blogger bungabambu said...

ini nih yang kusuka...
bisa buat cermin bagiku yang merasa tua.
tua bisa berarti malah jadi bodo ya,put?

3:51 pm, January 22, 2009  
Anonymous kak ega said...

bener tuh........kesenioran masih sangat terasa di Indonesia...hanya karna mereka dah tua dah anggap bisa berkuasa.....
kadang sebel trus bilang: ih..........kan kagak gitu...

12:16 am, January 24, 2009  
Blogger duniaputri said...

@ mbah : boleee...
@ hari : wow...
@ ega : sep-sep...

5:50 am, January 24, 2009  
Blogger srex aswinto said...

Azas senioritas di budaya manapun diakui keberadaanya...non.,
Cuma harus di ingat! Senioritas tdk ada kaitannya dg usia,
Usia (baca: tua) itu bisa diperspeksi dalam 2 arti ;
(1) menyangkut kematangan biologis.
(2) menyangkut kematangan psikologis/kognitif...
Mana yg kamu maksud non...?

7:51 am, January 25, 2009  
Blogger duniaputri said...

yoi, boz. lhah elu ngerasa nyah gimana??? yg saya maksud yg kayak di iklan roko laaaah...
lagian, dah tau ni tulisan gak vivid n gak valid. kok serius amat bacanya? merasa tua yah? hohoho...

8:08 am, January 25, 2009  

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home