Saturday, 24 January 2009

Teorema (tak) Valid tentang METAFORA

Setelah sebelumnya menuai (semacam) protes di catatan saya di situs pertemanan yang dimaksud dalam Senioritas Bertopeng Umur, saya merasa berkepentingan untuk kembali menuliskan sebuah perumusan yang saya buat sebagai bentuk apresiasi seni.

Sejarah singkatnya yaitu karena sebuah genre berkesenian bernama PUISI alias sajak atau apapun namanya. Saya menamakan kesenian, karena saya meyakini berpuisi atau bersajak semacamnya itu berkaitan dengan rasa. Rasa adalah bagian dari seni. Sebab seni dinamakan seni jika ada rasa yang menguar dari dalamnya.

Langsung ke pokok masalah, teorema apakah yang dimaksud? Tentang penggunaan metafor. Metafor alias metafora ini merupakan sebuah pemaknaan konotatif atau bukan sebenarnya pada suatu kata.

Nah, masalahnya adalah problem dan problemnya adalah masalah. Hehehe...

Menyebalkan sekali ketika ada orang yang memuji-muji sebuah sajak karena banyak metafor di dalamnya padahal dia sendiri gak mengerti. Nah!!! Maka dari itu, saya menganalogikan metafor serupa alkohol.

Kenapa? Sebab, metafor seperti halnya alkohol, akan menyehatkan ketika berada dalam dosis yang sesuai. Jika berlebih, tak bagus untuk kesehatan - jika metafor berlebih maka tak baik untuk mental.

Tapi, seperti juga halnya pecandu alkohol. Maka para penikmat alkohol alias metafor tentu punya jam terbangnya sendiri. Maka mereka tak akan mudah mabuk.

Namun, selain serupa alkohol, ada sebuah sentimen pribadi yang menyebabkan saya tak suka alkohol eh metafor. Bagi saya, sungguh sebuah kepalsuan metafor ini. Yah, tidak palsu-palsu amat sih. Yang jelas, saya merasa metafor tak lebih dari kepalsuan. Jika kadarnya pas, lagi-lagi sehat. Bisa untuk menjaga image (jaim, bo...hehehe...). Selebihnya, palsu.

Namanya juga teorema tak valid dari seorang pemilik intelejensia selepel amoeba. Maka, saya harap kalian para pembaca, tak terlalu mempercayai teorema saya. Sebaiknya,,, penuhi rasa Anda sendiri dahulu sebelum berteori. Bukankah teori ditulis setelah melalui pelbagai eksperimen?

Catatan : terimakasih pada Mbah Yus karena telah berkenan mempopulerkan kata alkohol dalam setiap permainan kata saya dan kamu (saya dan kamu tidak selalu melulu kita).

6 Comments:

Anonymous e-je said...

Analisa yang bagus..
kayaknya seniman abis nih..

6:40 am, January 24, 2009  
Blogger duniaputri said...

jiaaaah,,, hwakakaka...

7:46 am, January 24, 2009  
Blogger srex aswinto said...

Tulisan2 mu non....bergaya minimalis, lugas / gaya seadanya (understatement)
Udah baca kan ? karya2 'Ernest Hemingway' ...dia gayanya ya kayak gitu...cuma penulisannya lebih teratur dan mengalir halus...menghanyutkan...
Kalo tulisan2 non...me-loncat2, bikin kening berkerut buat yg pertama kali baca...tapi gak apa2...itu adalah 'trade mark' mu non....

8:12 am, January 25, 2009  
Blogger srex aswinto said...

Kalo pengin baca tulisan yg penuh metafora yg menyebalkan dan menjijikkan, silahkan baca posting2 ku dg label 'kura-kura dan tiram' ya non...

8:31 am, January 25, 2009  
Blogger duniaputri said...

mpe segitunya mas??? oh, bacaan ntuh? nanti lah yaa kalu si akyu ada mood *dg gaya songong gue seperti biasa. huhuy...

7:05 pm, January 25, 2009  
Blogger si kere (Yuswan Taufiq) said...

...pan sebenarnya kamu dah punya metafor ala PyutPyut yg satirstik dan sarkastik, itu keknya bakal jadi Pyut trademark..xixi

Hati2..jangan terlalu membuat pencerahan terhadap apa2 yg tertuang dlm karya seni (puisi/sajak), jika belum bisa lepas dari pencerahanmu sendiri, kamu akan hilang dlm pencerahanmu itu sendiri, alias intuisimu akan terbang entah ke mana..hehe
(krn pada akhirnya kamu merasa dituntut untuk membuktikan dirimu sendiri...dan terlepas/terlupa dg intuisimu yg yahud itu)^^

Tp, bisa jd juga ya, hal semacam ini menjadi proses kamu buat menapaki esei..
So ya biarkan saja angin berhembus membawa ke mana...hahahaha

...thuink thuinkkK!^^

1:03 am, January 26, 2009  

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home