Friday, 20 April 2007

ROKOK – FEMININ VERSUS MASKULIN

ROKOK – FEMININ VERSUS MASKULIN

Siapa yang tidak kenal rokok? Baik mereka perokok atau tidak, semua tau apa itu rokok. Bedanya, mungkin perokok tau rasanya rokok sehingga mereka merokok dan yang tidak merokok tidak tau sehingga tidak merokok. Tapi itu tidak mutlak. Tidak perlu jadi perokok untuk tau gimana rasa rokok sebenarnya.
Sekarang ini, sudah banyak cewe yang ikutan merokok. Buat gue pribadi, keliatannya oke aja tuh cewe merokok. Walaupun engga bisa dihindari, bahwa imej cewe perokok itu identik dengan imej cewe murahan. Yang jadi pertanyaan, atas dasar apa maka asumsi ini disamaratakan. Kalo cewe tidak boleh merokok, kenapa cowo merokok?
Gue iseng survey beberapa orang cowo, tentang kebiasaan merokok. Berikut ini laporannya.

Sabam : “Gue ngerokok sejak kuliah. Sekalinya ngerokok langsung kuat. Sekarang udah banyak berkurang, cuma 2 batang sehari.” (setelah melalui beberapa percakapan, langsung dan via telepon selular)
Gilunk : “…” (diam, tapi dia engga ngerokok juga tidak sembunyi-sembunyi belajar ngerokok, gue yakin itu sebab dia ade gue tercinta)
Gohchieh : “Iya. Gue takut keterusan jadi perokok, jadi engga berani nyoba.” (percakapan ketika sedang dalam perjalanan entah)
Bapa_Syam : “Saya merokok bu, kenapa gitu?” (menebak karena di primary-picture dia ada pose dia dan rokok di ujung bibirnya, dan dengan pola hidup insomnia alias kalong alias tidur larut malam, biasanya pasti merokok) “rokok saya bukan yang di iklan itu, bu” (percakapan terjadi via telepon seluler)
Arca Gununk : “engga, masa kamu engga liat bibir aku” (via telepon rumah ke seluler – jawaban ketika beliau ditanya apakah merokok atau tidak, tapi korelasi ama bibir apa?) “1. asap rokok bikin badan bau 2. ganggu orang di tempat umum 3. ga sehat (pastilah) pokona anti rokok” (jawaban lanjutan via SMS)

Sedangkan dalam suatu kesempatan, gue pernah nongkrong bareng di suatu tempat dengan seorang teman gue, cewe, yang ternyata perokok. Inisialnya DF, statusnya saat ini mahasiswa fakultas sastra – sekampus ama gue. Saat percakapan terjadi, dia bawa rokok mentol merek tertentu, masih yang kadar ringan kalo gue engga salah baca label. Dia mulai menghembuskan asapnya saat dia cerita kalo dia mulai merokok sejak SMA.

Sambil mulai cerita, dia mulai nyalakan rokoknya. Tapi sebelumnya dia minta maaf dulu “sori gue ngerokok depan lo.” Dan gue jawab gapapa.

“Awalnya karena ada suatu kejadian, gue mulai ngerokok. Ternyata keterusan. Rokok dan kopi. Tapi gue sekarang mulai berhenti. Paling ngopi, bikin racikan capucinno sendiri. Walaupun temen-temen gue banyak yang balik lagi ngerokok, tapi gue engga mau cuma gara-gara temenan ama mereka gue balik ngerokok lagi.”

”Menurut gue, gue sendiri setuju rokok itu tidak baik. Tapi gue juga engga suka dengan statement cowo-cowo yang seenaknya aja nge-judge cewe-cewe merokok sebagai wanita tidak baik. Gue akui, kadang cewe-cewe itu goblok. Mereka pameran gitu ngerokok di depan umum. Padahal gunanya ngerokok itu untuk dinikmati. Ngapain ngumbar-ngumbar depan orang? Tapi balik lagi ke cowo-cowo, kenapa juga ngelarang cewe ngerokok kalo dia sendiri ngerokok?”

Dari pernyataan DF, gue setuju kalo kebanyakan cowo langsung menghakimi cewe perokok tanpa tau dan mau tau alasan kenapa cewe itu ngerokok. Walaupun gue setuju bahwa rokok engga oke buat kesehatan.

Bahwa cowo merokok itu wajar, dan jika tidak maka luar biasa. Jika cewe tidak merokok wajar sedangkan cewe merokok dianggap dosa. Agak hiperbol sih, bukan dosa lebih tepatnya, tapi tatapan menuduh.

Dari jaman Raden Ajeng Kartini memperjuangkan hak kaum wanita, sampai sekarang ini di era teknologi, isu gender masih terus berlaku. Engga cowo yang nyari gara-gara, engga cewe juga yang pada mancing. Kalau gue pikir, Ibu Kartini engga memperjuangkan kesamaan hak wanita agar mereka bisa merokok sejajar pria. Tapi juga bukan berarti merokok itu hak setiap orang.

Iya sih, merokok adalah hak setiap orang. Perputaran uang di dunia produksi rokok jelas sangat besar, coba aja liat berapa banyak acara yang disponsori rokok? Rokok juga penyumbang devisa negara terbesar, setelah entah apa. Dan rokok adalah satu-satunya iklan di tanah air yang tidak langsung ke sasaran. Coba deh perhatikan iklan rokok. Tapi yang tidak kalah menarik adalah, iklan rokok seringnya ditujukan untuk cowo-cowo. Lagi pula, roko selama ini identik dengan asik.

Padahal khan engga perlu juga jadi perokok biar jadi asik, itu sih gimana bakat asik atau engganya.

pastinya kalo gue asik, itu udah jelas...

Rokok, menurut gue, pada dasarnya adalah benda uniseks. Buat cewe dan cowo. Tapi tetap aja merokok adalah kebiasaan engga baik. Berapa banyak zat berbahaya yang kita isep kalo kita ngerokok. Tar, nikotin, dan banyak racun lain.

Meskipun demikian, merokok atau tidak juga hak seseorang. Engga perlu nimbulin isu gender, dan terutama para perokok – hargailah para perokok pasif. Sebab bahaya asap sisa kepulan dari perokok bagi perokok pasif bahayanya lebih besar daripada para perokok sendiri.

Jawaban cerdas alias dalih dari pernyataan ini adalah ”kalo gitu jadi perokok aja sekalian.”. Nah, yang begini ini yang ngaco.

Cewe dan cowo memiliki hak yang sama untuk merokok, seperti halnya mereka punya kewajiban yang sama untuk menjaga kesehatan diri dan sekitarnya dari efek negatif rokok.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home