Sunday, 15 March 2009

Sebuah Kisah di Hari Minggu

Tumben-tumbenan saya di Hari Minggu cerah ceria seperti sekarang, 15 maret 2009, bangun pagi. Makan (kalok makan sih biasa),,, daaan : MANDI. Biasanya libur mandi ketika hari libur menjadi sesuatu hal memesona. Ibaratnya, sesuatu nan eksotis terjadi. Halakh, makin ngaco ajah sih kamuh Pyut?!

Ada apakah gerangan? Saya hendak menonton bocah yang saya (semacam) asuh akan mengikuti lomba. Lomba atletik pula, tidak main-main. Lomba bagi bocah ini sudah diadakan sejak hari Jumuah, 13 maret 2009. Dan, jadilah saya berpanas-panas ria melawan sinar matahari luar binasa (edan eling benar sinar matahari Kota Cerbon, Kota sing ning pinggir laut. edan bli nganggo eling... yang cetak miring tebal adalah salah satu lirik lagu lokal Cirebon dan Dermayu, bener gak tuh? ^.^) sejak jam 07.30 - sekitar 10.15 dan berlelah-lelah ria membawa perabotan bocah. Tas-tas mereka yang berisi air minum (hanya dua orang untungnya.kemarin pas hari sabtu, saya menjaga 3 - 4 tas para bocah).

Saya mendapat dua pesan moral bagi diri saya sendiri :
  • komentar bisa menjadi dukungan sekaligus hambatan.
Apakah alasan konkret dan logisnya?

Begini. Saya mendengar para "pengasuh" mereka (baca : pengasuh dengan tanda kutip) sibuk membacoti bocah. Ini lah, itu lah. Mana panas, terik, capek, lelah. Bocah, wajar... Sud bagus mereka mau mengikuti lomba. Yang harus dipertahankan adalah motivasi mereka untuk bertanding. Bahwa menang hanyalah bonus dari kompetisi.

Saya hanya bisa menyaksikan mereka, seolah mereka benar-benar anak saya bukan sekadar anak asuhan saya. Mengawasi mereka bertanding, dan menyediakan apa yang mereka butuhkan. Air minum mereka, termasuk memegangi sepatu mereka - menjanjangjinjing sana sini - sebab ada salah satu anak yang ingin bertelanjangkaki saat bertanding.

Saya tidak ada saat mereka berlatih. Lantas untuk apa saya bacot sana sini berkomentar seolah penting? Itu tidak mereka butuhkan saat H, lepas dari apakah saya menyaksikan mereka latihan atau tidak. Yang mereka butuhkan adalah : apapun hasil akhir kompetisi, saya ada untuk mereka. Titik.
  • Romantisme Masa Silam hanya sebuah kilasan sinar bintang di langit malam.
Saya melihat seseorang yang saya kenali sebagai Pegawai TU SMU saya di lapangan tanding. Saya menunggu-nunggu saat saya dan beliau bisa saling menyapa.

Sekelebat terlintas masa-masa SMU saya sekitar 10-7 tahun silam. Sekilas itu pula ada sebuah pusaran sangat kuat sempat menarik saya ke masa silam. Saya mencoba fokus, bahwa hal itu bisa saya analogikan dengan sinar bintang di langit cerah malam. Sinar bintang itu hanya kerlap-kerlip dan nyata di saat gelap palnet bumi. Sebab, bisa jadi sinar kemilau yang membuat saya dan kalian terpukau hanyalah sinar dari sebuah bintang berabad atau beribu tahun silam. Disebabkan oleh jarak yang jauh, nyaris tak tergapai...

Akhirnya tarikan pusaran masa silam berakhir. Ketika pertandingan bocah selesai, akhirnya saya bisa saling bertegur-sapa dengan si Bapak. Kami sama-sama saling mengingat satu sama lain. Hanya saja, nama kami saling lupa satu sama lain. Rupanya, yang mengikat kami adalah masa lalu itu. Masa lalu yang tidak kami pelihara, hanya menjadi semacam kartu undangan agar bisa saling bertegur sapa. Antara saya dan beliau, Pak Pegawai TU SMU saya dahulu.


Begitulah, kiranya hasil perjalanan wisata batin saya di minggu ceria ini. Selamat Hari Matahari, sun day ^.^

2 Comments:

Anonymous adinxtm said...

belajar dari perjalanan hidup seorang kwan...hemm..goodpost
lam kenal

10:57 am, March 16, 2009  
Anonymous boodee said...

hihihi..

kamu ngajar,put??

atau 'mengasuh'??

gimana hasil pertandingannya?

9:17 pm, March 17, 2009  

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home