Tuesday, 23 June 2020

̶A̶n̶d̶a̶i̶ ̶A̶k̶u̶ ̶B̶i̶s̶a̶ Membunuhmu Tanpa Menuai Hujatan

Ibadah Menulis Sesi Ke-22 Cerita Ke-21
(sebab tulisan pertama isinya khotbah sastrawi)


“Selamat yaaaaaa, Andiiiiin!”
Dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya.
Baru berapa bulan berlalu sebelum semuanya berbalik seratus delapan puluh derajat.
“Kamu tau apa?! Itu kan hanya teman! Ini mangkanya aku tak suka perempuan yang kerja segala! Diem di rumah! Suami datang bukannya disiapkan minum atau dikasih senyum, malah ditanya yang tidak-tidak!” hardiknya sambil mendorong sang perempuan yang perutnya sudah membuncit itu, hingga bahunya menghantam tembok.
“Aku tanya, Mas…” balas Andina halus. Dia masih mengeryitkan wajah karena kesakitan, ketambahan campur aduk segala rasa dari perutnya.
“Pertanyaanmu keterlaluan!”
“Mas… kalau aku gak kerja… kalau aku resign… memangnya uang darimu cukup buat kita sehari-hari?” ucap Andini lirih sambil mencuri pandang.
Tatapan mata yang tajam menusuk membalas curi-curi pandang Andini.
Hari-hari sejak saat itu dilalui Andini dengan kekasaran silih berganti. Kadang ucapan, kadang tangan yang menggebrak bahunya alih-alih menggebrak meja.
“Eh, Mas Fauzi. Abis jalan-jalan sama istri, Mas?” sapa seorang tetangga menyapa dari seberang rumah.
“Iya, Bu…” jawab sang pria serigala berbulu domba yang merangkul pundak Andini.
“Dengar-dengar besok malam mau ada pengajian di Mesjit Anu-anu, Mas Fauzi yang ngisinya? Benar?”
”Insyaallah, Bu. Kebetulan, Pak Hanif yang meminta. Sekalian persiapan kita berapa hari lagi mau Ramadan.”
Sang tetangga berlalu, dan sepasang insan manusia itu memasuki rumah kediaman mereka.
Sebentar saja keheningan melingkupi mereka, riuh amarah kembali menyeruak.
“INI. APA INI? FITNAH. KAMU TAU KAN, AKU BANYAK MUSUHNYA.”
Andini tersentak dengan hardikan yang tajam dengan volume suara tertahan itu.
“Stalker. Paparazzi. Apa itu sebutannya?!” tambahnya seraya membanting ponsel Andini selepas dia investigasi isinya. Ajaibnya, ponsel itu tak mati, hanya permukaan layarnya saja retak.
Ramadan dan Lebaran terlampaui sudah. Pria yang seharusnya menjadi ayah dari bayi yang dikandungnya semakin rajin menghardik, jarang pulang, bahkan nafkah uang bulan ini sudah tak ada kabar selama dua minggu lebih.
Hingga saatnya sang bayi berontak ingin muncul ke dunia.
“Ndin, sehat-sehat! Kuat! Semangat! Bi Rum beresin admnistrasi dan jaga di sini.”
Hingga saatnya ibu dan bayi pulang dari rumah sakit.
Makasih, Bi Rum. Dah, kok. Gapapa.”
Hingga usai jatah masa cuti melahirkan.
Bener, Bi Rum? Mau? Gapapa, ini?”
Gapapa. Bibi mau ngapain lagi coba? Anak sama suami dah pada pergi ngeduluin Bibi. Udahlah anak hanya satu-satunya, belum sempat mantu belum sempat gendong cucu. Bibi pengen gendong-gendong Bayi Lyla.”
Tak cukup sampai di situ, sumber kekusutan hidup. Omongan tetangga terkadang bisa menjadi ajaib, bila tak dapat disebut tak masuk akal. Karena beliau lebih senior.
“Ih, Bu Andin. Kok mau sih, diasuh Bi Rum. Dede Lyla. Bawa sial, lho. Bi Rum kan ditinggal suami dan anaknya gara-gara dia liberal. Gak mau berhijab.”
Pun ocehan orang kantor. Kala berpapasan di mal sepulang jam kantor. Karena posisi jenjang kerja beliau, lebih tinggi.
“Ya ampun, Ndin. Kok gak ASI aja sih, dedenya! Jangan keseringan pakai sufor! Kasihan anakmu! Mangkanya jangan kebanyakan stres, apa-apa serba dipikirkan. Ibu bilang gini kan karena pengalaman pernah jadi Duta ASI sak Bekasi Raya.”
Tiga bulan kemudian, Andini berhasil melakukan operasi tangkap tangan pada dia yang terikat buku nikah dengannya.
“Kamu harusnya tau diri, sebagai istri kamu sudah melakukan apa saja ke suami!”
Kembali, hardikan yang diterimanya.
“Terus, maksud kamu? Kamu mau nikahin perempuan itu? Yang katamu teman kerjamu?”
“Ada hukumnya dalam agama kita! Kamu jangan sembarangan bicara! Kamu bilang sendiri kan, kamu sudah luluh dan tergerak hati untuk menjadi perempuan yang lebih baik, jadi istri yang mulia!”
Masih, hardikan yang menjawabnya.
Segala kekusutan yang menumpuk menemui puncaknya, kala ada surat tagihan dari bank. Cicilan yang mangkrak sudah 3 bulan. Cicilan dengan surat tanah dan rumah yang ditempati Andini dan sang suami. Surat tanah dan rumah atas namanya sebab semuanya itu memang miliknya, warisan dari kedua orang tua yang telah pergi ke alam lain. Yang seharusnya menjadi jatah dia dan adiknya yang sedang menempuh studi sarjana di luar kota.
Andini menggendong Bayi Lyla sembari menyetel lagu dengan volume suara yang cukup kencang, tetapi tak sampai mengganggu tetangga sekitar.
Air matanya tumpah sejadi-jadinya. Sesenggukan menahan isak amarah dalam dada, Bayi Lyla mulai merengek minta diperhatikan.
Andini meraih bantal di dekatnya, dan mulai menekannya kuat-kuat ke wajah sang bayi.
Namun, dalam hitungan detik, dering panggilan masuk di ponsel membuyarkan keruhnya sesaat.


=== Dini Hari di Peralihan Tanggal,
22 ke 23, Juni 2020 Masehi ===

Labels: , , ,

0 Comments:

Post a comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home