Wednesday, 24 June 2020

Inilah Caraku Mengingatmu

#IbadahMenulis Ke-24 Beercerita Ke-23 sebab yang pertama hanyalah ocehan tentang Bulan Juni yang legendaris



[ November Tahun 2019 ]


"SINI, DOOOONG. CEPETAN! PIZA EBIRA, CUS!"

Aku menjauhkan ponsel dari telingaku.

Sambungan ponsel terputus. Namun, bunyi notifikasi langsung plentang-plentung saling bersahutan membuat bising.

Pesan dari layanan LINE-Chat darinya mbrudul bertaburan. Lengkap dengan stiker menggemaskan, memohon agar aku memenuhi permintaannya.

Bir gratis, pikirku. Kenapa tidak. Sampai kemudian aku ingat, kalau salah seorang di antara kami mabuk berat, berarti alamat repot urusan memulangkan mobilnya.

Sesampainya di sana, dia merengkuh pundakku memeluk. Kami lalu duduk di tempat masing-masing, menikmati bir dingin dan pertunjukan musik Live Show.

"Pacar aku... main... tapi anak-anak kantor masih pada miting..." ucapnya dengan suara pelan sambil wajahnya mendekat ke arahku. Kemudian, sambil tertawa dia melanjutkan, "hahahhaa gimana doooong! Pacar manggung, masak aku rapat! Kan kesel, yak!"

Tempat itu riuh, salah satunya karena musik. Orang-orang saling mengobrol, aku merespons sekenanya.

"Kamu kenapa judes banget, ih?! Kalo ada yang oke, ambil siiiiiih...!" sahutnya sambil menoyor bahuku dengan bahunya. Kubalas dia dengan cubitan di pipi. Lalu, aku kembali asyik teriring suasana ala kehidupan kota besar dengan segala gelisah di baliknya.

Aku semakin tenggelam menikmati musik jeda, karena band sedang istirahat.

November Rain. Guns 'N Roses.

Sudah jam bubar. Kulirik jam di ponselku. Kulihat angka 00.24 di layar.

Akhir dari pertemuan transaksional ini adalah dia mabuk lumayan, dan aku masih baik-baik saja dengan beberapa gelas bir dingin. Di Indonesia, belum pernah ada kejadian di mana yang nyupir dalam keadaan habis minum bir kena tilang. Yang penting, jangan buat kecelakaan kan? Sebenarnya ini bertentangan dengan kebiasaanku tetapi karena sogokan darinya, aku melanggar diriku sendiri.

Dia memintaku lewat studionya. Sudah kuduga, dia pasti ingin tidur di sana.

Aku tiba-tiba merasa bosan dengan kamar kontrakanku di sudut gang miskin di pelosok sudut dekat kampus. Kuputuskan untuk ikut tidur di sana.

Keesokan paginya, "KOK KITA DI SINI?"

"Sadar, bego. Kamu skip semalam."

"OIA, AKU LUPA!" balasnya sambil tertawa, lagi.

Aku meregangkan badanku sambil celingukan untuk geratakan mencari minum.

"Kopi AROMA ada di pojok situ, aku umpetin. Kamu ih kayak kuli, minumnya kopi item." Seperti membaca pikiranku, dia berkata seraya mengarahkan telunjuknya ke sudut yang dimaksud. Aku menyeduh kopi, dan dia pergi ke kamar mandi.

Bila di media sosial ada tagar-tagar goal apalah entahlah apalah-apalah, mungkin menaruh bubuk kopi kesukaan di studio temanmu termasuk salah satu dari friendship goal apalah itulah entahlah. Mungkin.

Ini hari Minggu, dan di genggaman tanganku ada secangkir kopi panas membara seperti cinta yang tak kasat mata. Betapa indah kehidupan bila dimulai dengan kebebasan dari kewajiban duniawi bangun super pagi untuk berjibaku mencari duit di belantara kota.

Dia kembali dari kamar mandi dengan masih ada sisa tetesan air dari wajahnya.

Kusodorkan tanganku, menengadah padanya. Dia melempar sekotak rokok yang masih tersegel rapi dari tasnya dan sebuah Cricket. Rokok kesukaannya. Kunyalakan rokok, kuberikan padanya. Dia menyesapnya dalam-dalam. Aku lantas membakar satu lagi untuk diriku sendiri.

"Kamu gak mau tanya-tanya apaaaaa, gitu?"

"Sejak kapan aku nanyak-nanyak? Memangnya aku polisi, hobinya interogasi?" balasku santai.

"Pacar mau nikah. HAHAHA! Beda tuhannya, jadi aku ama dia ga bisa lanjut. HAHAHA KASIAN IH AKU."

Aku hanya menoleh, menatapnya.

"Udah tau. Semalam siapa ya, yang nangis? Meraung-raung. Untung gak muntah-muntah. Repot, ntar." sahutku sambil tersenyum iseng.

"HAHAHAHAA BANGSAT AKU MABUK TERNYATA...!" dia membalasku dengan tawa dan seruan.

Dia lalu mengulang ceritanya dengan lebih rapi, tinimbang semalam. Sambil mengakhiri dengan, "Jangan! Jangan kasih aku omongan yang berat-berat. Aku pusing, gak mau mikir. Ini aja, studio, aku suetressss! Ada ya, orang bikin usaha Wedding Organizer, tapi gak kawin-kawin. ADAAAAAA!"

Kami berdua tertawa bersama.

Setelah itu, lama sekali kami tak saling bertemu untuk sekadar melakukan kebodohan. Seperti yang konon katanya, biasa dilakukan anak muda. Walau kami, gak muda-muda banget sih. Sibuk masing-masing. Dia sibuk dengan kehidupannya, aku pun demikian.

"Kita ini, kudu kawin. Kalau engga, nanti tetangga, saudara, dan semua orang. Pada ribut nanyain dan ngedoain. Mending ngedoain, ngomongin sih iya!" katanya suatu ketika.

"Karena kita terlahir perempuan di negeri ini?" balasku kala itu.


[ Juni Tahun 2020 ]

Wabah zombie korona meramaikan dunia. Aku sendiri tak mudik tak pulang kampung. Bertahan sebisanya, terutama dengan kesibukan klasik khas manusia umum: cari duit dan bertahan hidup.

Namun, tidak dengannya.

Bulan-bulan berlalu, termasuk masa-masa di mana Pembatasan Sosial Berskala Entahlah diberlakukan.

Lalu di suatu hari yang tak kalah entahlah, kulihat kabar di lingkaran pertemananku dengannya di media sosial.

Sejak itu, beberapa hari berlalu dengan mencekam. Hingga suatu hari, hari di mana badai menyambanginya. Menyambangi mereka yang akhirnya kehilangannya.

Sesampainya di rumah sakit, aku buru-buru mencari ruangan ICU yang ditempatinya. Kulihat ada orang tuanya, adiknya, dan beberapa orang yang juga kukenal baik. Kami berteman, dan kami berbagi teman.

Mereka semua sudah dipenuhi tangisan; setidaknya isakan, rintihan, wajah sembab, dan sisa-sisa air mata memenuhi wajah-wajah di sekitarku ini.

Ternyata aku terlambat. Setelah dirasa aku tak ada gunanya bila berlama-lama di sana, aku pulang.

Malam itu, pecah sudah. Tak dapat kuingat, kapan terakhir aku menangis sedalam ini.

Dan di sinilah aku, pagi ini.

Aku turut dalam iring-irangan yang mengantarnya. Ritual pemakaman berlangsung sebagaimana seharusnya. Lengkap dengan doa-doa yang bertaburan.

Gelombang kesedihan menyerbu, lagi. Aku merutuk dalam hati.

'Gak sopan! Kamu bikin aku nangis dari kemarin. Semalam, dink!'

Semua yang mengantarnya terlihat sibuk, entah apa yang masing-masing orang pikirkan. Yang kutahu, orang bisa menangis kehilangan bila ada memori tentang dia yang pergi.

Pergi karena berpisah alam.



Kamar dalam Rumah, 2462020

Labels: ,

0 Comments:

Post a comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home