Saturday, 27 June 2020

Karena Orang Tua

Ibadah Menulis ke-26 edisi sekumpulan kisah super pendek antitesis.


#fragmen 1
“Kamu tega meracuni adikmu sendiri? Umurnya masih lima tahun!” hardik perempuan di hadapanku. “Kata siapa dia adikku? Hanya karena Anda, menikah dengan Ayah? Tunggulah sebentar lagi. Anda tertidur untuk selamanya.” Kuberi jeda pada perkataanku sambil tersenyum, “Jangan harap hartanya dapat Anda nikmati. Terima kasih.”
[ 50 kata ]

#fragmen 2
“Bagaimana dengan keuntungan bagianku?” tanya perempuan muda di seberang meja makan malam romantis kami. “Kebebasan dan status sosial, dengan label istri. Juga uang bulanan dan uang lain-lainnya. Dalam lima tahun, baru kita boleh cerai. Tapi aku perlu anak yang mewarisi genku. Kamu pun akan dapat kompensasi balasan untuk itu.” jawabku dengan lengkap. Dia menyalakan rokoknya, lalu menghembuskan asapnya perlahan. Jadi, aku harus menambahkannya lagi, “Dan jangan merokok di ruang publik, juga nanti saat hamil. Sembunyikan kebiasaan itu.” Dia melirik sinis padaku, lalu kembali bertanya, “Bagaimana dengan posisiku di perusahaan gabungan kita nantinya?”
[ 100 kata ]

#fragmen 3
“Kenapa kita tidak Nikah Siri saja?” tanyaku padanya. “Kawin lari? Biar apa? Hanya biar tidak jadi omongan orang? Agar aku bisa kau pamerkan sesukamu? Percuma. Aku tidak mendapat keuntungan apa-apa dari Nikah Siri. Hanya hukum negara, yang bisa membantuku selamat dalam pernikahan.” balasnya panjang kali lebar kali tinggi, jadilah volume. “Tapi orang tua kita sama-sama tidak sepakat, kan? Terus, maumu bagaimana?” tanyaku lagi. “Ya tidak bagaimana-bagaimana. Kalau kamu memang ingin beli rumah, ya beli saja. Beli rumah kan tidak perlu harus menikah. Kalau aku ada uang ya aku mau membeli rumah sendiri.” Kembali dia menjawabku, tetapi kali ini ada bayang-bayang kilau air di kedua bola matanya. “Tidakkah cinta cukup bagi kita untuk bersepakat bersama?” tanyaku masih bertahan. “Kalau hanya untuk mengganti status anak perempuan dengan status istri, aku perlu lebih banyak waktu untuk berstrategi.” sahutnya lirih tapi tegas.
[ 150 kata ]



=== Pojok Kamar dan Segala Antitesis Normatif di Dalamnya,
tanggal 26 menuju 27 Juni, 2020 ===

Labels: , ,

0 Comments:

Post a comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home