Sunday, 28 June 2020

Malam Minggu di Pojok Dapur

Ibadah Menulis dua puluh tujuh ~ #cerita #eksperimental #realisme



“Sini, bantuin! Keburu Ibuk ama Bapak pulang nanti.”

Seiring senja berlatar kompetisi azan magrib di luar sana, Nyai memanggil.

“Bentar, masih bikin cerpen ini… dikit lagi.” bantahnya pada Nyai.

“Anak emang suka kurang ajar ama orang tua. Disuruh bantu-bantu malah melakukan hal gak guna. Gue yang udah nenek-nenek gini masih harus kerja bakal ngidupin elu.”

Ditinggalkannya corat-coret kertas yang sedari tadi direnungkan dalam-dalam.

“Kadang kasianama Ibuk ama Bapak. Capek-capek kerja, tapi gak ada anak di rumah ini.” Nyai nyeletuk sambil sibuk merapikan meja makan.

“Tapi ada anak gak ada duit juga buat apa? Gak bisa nyekolahin elu, tong!” lanjut Nyai sambil ngegeplak kepalanya dengan serbet.

Dih. Geplak palanambah bodo, ntar!” serunya sambil menghindar, tetapi tak berani sebab takut kuwalat.

Kayak cucu tiri, ih!” serunya lagi. Kali ini sambil mengusap kepala dan merengut manja.

Lhah, serbet doang ini?!” hardik Nyai.

Beberapa puluh menit kemudian, Ibuk dan Bapak pulang. Mereka menyapa sambil lalu. Kemudian mereka makan malam bersama di meja makan. Nyai selalu menolak, dan menghalangi; setiap kali diajak bergabung untuk makan bersama Ibuk atau Bapak atau keduanya. Harus tahu diri, demikian Nyai senantiasa berpesan.

“Mbah Pur, sekarang malam minggu. Yudhis gak mau malam mingguan, gitu?” tanya Ibuk sambil merapikan bekas makan malam mereka. Tepatnya, menggeser peralatan bekas makan ke wastafel tempat cuci piring.

“Oh, nggak Buk. Ini Yudhis malah mau tanya…”

Nyai melirik ke arah cucunya, memberi gestur untuk mendekati meja makan Ibuk dan Bapak. “Yudhis, itu… Ibuk tanya.” lanjut Nyai.

Dilakukannya yang diperintahkan Nyai, lalu dijelaskanlah semua maksudnya itu sambil terbata-bata. Bukan karena takut, melainkan karena sedikit rasa malu tapi butuh mulai membuncah dalam dada.

“Oh. Festival sekolah? Jadi… maunya pertunjukan teater aja?” sela Bapak sambil melirik Ibuk.

“Iya, Pak. Buk. …” aku tak melanjutkan ucapanku.\

“Kalau nilai-nilai UTS nanti bagus-bagus, Ibuk gak akan nagih utang. Kalau jelek, potong dari uang jajan tiap minggunya ya Yudhis. Deal?” Ibuk menawarkan perjanjian padaku.

Dia mengangguk mantap.

Okedeh. Ini, dua ratus ribu aja dulu. Cukup? Buat biaya ekstra yang kamu tadi jelaskan?” Bapak berkata seraya menyerahkan dua lembar uang merah dari dompetnya.

Kembali dia mengangguk mantap.

“Mbah Pur kalau mau istirahat duluan, gapapa. Biasa, malam minggu. Yudhis kalau mau malam mingguan, uang yang tadi jangan dipakai sembarangan ya? Kan tadi janjinya buat apa?” Ibuk berkata seraya mengacungkan telunjuknya.
Lagi, dan lagi. Dia hanya menjawab dengan anggukan kepala.

“Oia, Mbah Pur. Yang bocor di paviliun, nanti suruh Mang Jum panggil tukang. Beresin. Besok.” Ibu menambahkan, tapi untuk Nyai.

Akhirnya, kediaman super besar ini kembali ditinggal oleh Ibuk dan Bapak.

Sebelum beranjak hendak ke paviliun dekat kebun tak bertuan di ujung area rumah besar ini, Nyai memberi cucu satu-satunya itu ceramah; seperti biasa setiap ada adegan Ibuk atau Bapak kasih duwit.

Baek-baek, elu jaga janji ama Ibuk ama Bapak. Bagus bener, biaya SMK elu ditanggung Ibuk ama Bapak. Orang-orang di luaran sana, cuma bisa ngomongin mereka. Ujung-ujungnya, belum tentu jugak ada yang peduli.”

Nyai melanjutkan ceramahnya sebelum menutup pintu belakang yang mengarah ke paviliun sono.

Ama anak miskin yang gak punya orang tua, ngapain sih harus repot-repot. Nah. Eluuuu. Harus bisa lulus SMK, biar ga pait nanti idup pas gue nyusul anak ama menantu gue ntar.”

Idup syape?” tanya sang cucu gak penting.

Idup elu, lah. Kan gue sih bentar lagi juga matik, dah nenek-nenek gini.” sembur Nyai sambil menutup pintu.

Namun, beliau kembali membuka pintu hanya untuk bertanya, ”Ini benerangak malam mingguan? Trus, mau napain?”

“Nonton TV, dong! Sayang ini, ada TV Kabel tapi TV jarang dinyalain Ibuk ama Bapak!” seru satu-satunya anak di bawah umur itu sambil menyeringai lebar. Bahagia doooong, pegang duit dua ratus ribu gitu, lho!

Nyai akhirnya serius pergi. Maksudnya, ke paviliun.

Si anak SMK yang dipanggil Yudhis itu sejenak melihat coret-coret yang tadi tak tuntas. Ditinggalkannya coret-coret untuk cuci piring, dan merapikan yang tersisa usai Nyai pulang ke paviliun.




== Dekat Dispenser, 27 ke 28 Juni 2020 ==

Labels: , ,

2 Comments:

Blogger SketcH said...

Ibuk nga dimirngin?

6/29/2020 1:02 am  
Blogger duniaputri said...

enggak duonks, pan pakai huruf kapital: Ibuk. jadi, statusnya, NAMA aja gitu itu sih. panggilan.

6/30/2020 12:23 am  

Post a comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home