Wednesday, 1 July 2020

Karena Cinta Itu Hal yang Mewah

Ibadah Menulis Penghabisan ~ masih edisi Cerita Eksperimental


"Izinkan aku mencintaimu..."

Belum sempat kuteruskan, dia sudah menyanggah perkataanku.

"Memangnya cinta itu sejenis kegiatan keramaian warga? Minta izin segala?"

"Ini aku mau romantis, ini..." sahutku sambil nyengir, merasa kikuk... kikuk-kikuk.

Tak kusangka, dia tertawa.

"Trus, gimana?" tanyanya terkekeh. Masih tersisa senyuman mengejek di wajahnya. Menyebalkan. Kenapa dia menarik sekali.

"Ya, ga gimana-gimana sih..." jawabku meninggalkan jeda.

"Gitu?" Dia kembali memberiku tanya.

Aku terdiam selama sekian puluh detik, hingga ketika kulihat tanda dia akan berlalu dari hadapanku.

"Aku boleh ga, sayang-sayangan sama kamu?" seruku dengan pertanyaan yang segera kusesali. Kusesali karena malu.

"Tapi aku lagi sayang-sayangan ama skripsi."

"Oh..." tergagap aku merespons.

"Ya udah, ayo!" ucapnya mengejutkanku.

"Ayo apa?"

"Ya ayo, kita sayang-sayangan."

Demikianlah kami, para mahasiswa baik-baik ini, menempuh kehidupan bersama skripsi, dengan sayang-sayangan secara baik-baik.

Misalnya ngapain?

Bantu-bantu memeriksa ketikan. Bergantian, saling sediain makanan. Memantau pergerakan tukang jilid, dan aktivitas mulia fotokopian. Jadi alarem, alias meninggalkan jejak panggilan tak terjawab di ponsel hingga puluhan. Karena YBS Yang Bersangkutan tidurnya macam kenak bius gajah. Gak aku, gak dia. Ya, cium-cium dikit laaaaaah. Bonus. Namanya anak muda.

Kami berpisah baik-baik, mengingat kami memulainya dengan baik.

Dia akhirnya bekerja di kota besar. Aku kembali ke kampungku.

Hingga suatu hari aku bertemu kembali dengannya di kota besar tempatnya melanjutkan perantauan.

"Heiiiiii..." sapanya.

"Lho, kok ada di sini?"

"Tugas negara."

"Kok bisa?"

"Iya bisa, dong. Aku sekarang jadi sekretarisnya Bu Dewi. Kebetulan perlu nge-lobi Bapak XXX. Sekalian repotnya."

Segera dia melirik tajam padaku.

"Bukan nge-lobi yang gimanaaaaa gitu ya..."

Aku menggelengkan kepala. Kemudian, "Bu Dewi yang itu? Woooooow...." Sambil masih terkagum-kagum padanya, aku melanjutkan, "Aku ke sini sebagai perwakilan ..."

Kembali dia menyalip ucapanku. "Hm! Pemuda desa penuh dedikasi. Aku setuju, dana desa seharusnya lekas cair. Perekonomian merata, seharusnya bukan omong kosong yang perlu dirapatkan di aula hotel megah kayak gini, kan?"

"Kamu..." Jeda panjang mengakhiri ucapanku.

"Ya. Aku. Dah gak ada waktu bagiku... untuk kembali ke tanah kelahiran. Dan seterusnya dan seterusnya."

Aku hanya memiringkan kepalaku, bingung.

"Mau ekonomi syariah, mau ekonomi kapitalis, mau ekonomi Adam Smith, mau ekonomi desa, mau apa terserah. Aku ingin posisi yang tinggi, dan lebih tinggi. Jadi perempuan tidaklah terlalu menyenangkan, di kota kecil. Semua yang aku inginkan dihalangi omongan orang dan gosip tetangga sekitar."

Aku kembali memiringkan kepalaku. Masih bingung.

"Misalnya kapan kawin." ucapnya tanpa tedeng aling-aling.

"Aku belum nikah, lho..." sahutku, untuk kemudian kembali menyesal. Karena malu.

"Emang nanya?" balasnya. Senyuman mengejek itu kembali muncul.

"Tapi gak usah ngajak sayang-sayangan lagi, ya!" Segera dia menambahkan ucapannya.

Kami berdua tertawa. Dia tertawa puas, aku tertawa kecut.

Sambil sama-sama bergeser mencari makanan, aku nyeletuk sekenanya.

"Aku ingin menikah, punya anak, lalu menua, lalu mati. Sederhana banget ya, cita-citaku."

"Ya kenapa, engga? Tapiyaaaaa, kirain mau bikin pertanian terintegrasi dulu sebelum mati." Dia merespons santai.

"Itu juga, sih. Tapi kan bisa sambil menikah dan punya anak."

"Keren, itu." Lagi, dia merespons santai.

Kami sudah mulai siap-siap mengambil makan siang jalur prasmanan, saat matanya melihat ke belakang kepalaku.

"Si Bapak lewat, dong! Ke dia dulu, yak! Itu tadi kartu nama, nanti aku kirim kontak pribadi. Akhir bulan depan, kontrak selesai. Sebelum lanjut, mau ke timur dulu. Muter. Nanti di Madura, tolong dikawal, okheeeeei?"

Tanpa menunggu respons apa-apa dariku, dia sudah menghambur pergi. Kulihat punggungnya seiring dia melangkah cepat-cepat.

Sejak saat itu, aku dan dia hanya bertukar pesan seperlunya.

Dia sibuk, aku lebih sibuk. Sibuk menjadi seonggok jagung)* di desa.

Sayangnya, dunia lebih dahulu diriuhkan oleh wabah global akibat virus korona daripada kedatangannya di Madura. Yasudahlaaaaah. Di sini termasuk berbahaya juga.



=== Jembatan Suramadu dalam Ingatan,
di peralihan hari dari 30 Juni ke 1 Juli, 2020 ===


catatan kaki:

yang bertanda bintang dimaksudkan pada sebuah puisi oleh W. S. Rendra: Sajak Seonggok Jagung. bisa dilihat di sini: https://normantis.com/2016/06/28/seonggok-jagung-di-kamar-puisi-ws-rendra/ ~ atau versi audio di sini: https://www.youtube.com/watch?v=wsiC-8sOmVQ

Labels: , ,

0 Comments:

Post a comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home