Monday, 15 November 2010

Mau Hidup dan Bermimpi

Kalo Sinta Ridwan (penulis autobiografi Berteman Dengan Kematian, oleh Penerbit Ombak) keukeuh sumekeh dengan harus hidup, saya sih mau hidup aja. Kenapa? Ini dia alasannya : Memotivasi Diri Dengan Berkata Saya Mau. Haha, mempromosikan tulisan sendiri, kenapa tidak?

Lalu, adalah Tika Osbond (Nja) dan Sazkia Noor (Giman) yang memiliki impian Naik Darjeeling menyebut impian itu sederhana. Nemu di twitter. Padahal, bagi saya dan Kemuning Larasattie (Mumun) sepertinya itu kurang sederhana. Halah. Sebenernya, apa arti sederhana dan impian? Serba relatif. Lhah buktinya impian saya dan Mumun adalah mengadakan Festival Puisi.ala Kami. Apa kagag ribet tuh? Apa pun itu, Mumun dan saya senang bermimpi. Bagi saya jelas, impian itu bensin untuk hidup yang bergerak.

Lalu saya ingat brokoli. Lhoh tak nyambung. Ya, karena ini mulut sedang tidak dapat dioperasikan dengan baik saya semakin napsu ingin mengunyah brokoli rebus. Oia, brokoli banyak manfaatnya. Mencegah kanker misalnya. Silakan baca sendiri itu artikel dari netsains tersebut.

Mahal. Apa arti mahal. Mahal kata Mukti (di sebelah saya saat ini semua diketikkan) adalah tak terbeli. Eh, apa iya gitu yak? Konon di usia saya dan Sinta (sekitaran seperempat abad-an) yang juga berarti usia Nja, Giman, Mumun, adalah usia pencarian bentuk. Bentuk apa yah kira-kira? Mukti bilang, karena dia sudah melalui semuanya. Kenapa? Jadi pusing sendiri.

Ya sudah, mari berhenti bersedih dan mari semangat kembali. Apa pun keadaannya, kita masih bernafas. Maka kita hidup. Kata Tika Osbond alias Nja "hirup, dan menjadilah". Terdengar sungguh jadul pernyataan dia itu. Tapi keren.

Heyheyhey,,, semangat!

16 November 2010 - di Gedung Pergerakan
di sekitaran Cikutra, Bandung. dalam keadaan lapar.
semoga yang menemukan tulisan ini ikutan bersemangat!