Wednesday, 25 August 2010

Menyelesaikan Kemarahan

Oh, itu sih dapat menggubah dari kosakata si orang tercinta. Oknumnya sapa yah? Ga ah, kesian. Tidak akan saya ekspos. Yang jelas, dia berhasil membuat saya kembali jatuhcinta - tambahan, dengan norak. Sebab, ini semacam kebiasaan. Begitu mencintai dengan gila, nah norak lah saya jadinya...

Saya belum selesai dengan kemarahan, dan dia (si cinta saya itu) sudah. Saya marah kepada bekas teman saya, yang mengabaikan saya. Saya ingin kontak dia tapi dia selalu tak pernah ada respon. Nama oknumnya siapa? Ga usah lah, ntar dia kesenengan kalok tau saya menggosipkannya di sini. Lalu saya marah juga, tepatnya gondok alias jengkel, ke bekas cecintaan saya. Semacam dia dan saya pernah saling jatuhcinta tapi lalu menurutnya hubungan ini berbahaya jika tetap diteruskan. Yang bikin gondok, adalah karena dia menjadi canggung dan terkesan menghindari. Sebel dong, emang dia pikir gue Virus Ebola apa, dihindari?!

Kemarahan pada si mantan teman bangkit lagi saat saya pernah bermimpi dia hadir di depan muka saya, tersenyum dan berkata sepatah : iya, gw ga ngeroko lagi. Padahal di mimpi itu saya memakinya habis-habisan. Apa alasan logis kemarahan saya itu? Dia tidak konsisten dengan prinsip-prinsip yang dia junjung. Ga masalah jika dia tidak jadi mengabaikan saya. Ini sih dianggap ga ada, bener-bener nyesek. Tau nyesek? Sakit ati. Tapi saya memutuskan harus memilih pedoman Mayong. Teman kami yang lain. Abaikan dia. Ya, dicuekin itu hanya perasaan saya. Sebab, itu tanda saya masih menganggapnya ada.

Itu hanya marah kecil. Kadang saya marah kepada hal-hal di luar diri saya termasuk dengan sungguh penuh rasa kebangsa(t)an saya marah kepada negara. Betapa negara ini saya cinta tapi tak terurus. Ya iya laaah, saya kan rakyat jelata maka minta diurus. Aneh ya, petinggi negara ini dan lain-lain strukturnya dibayar begitu mahal hanya untuk tidak becus bekerja. Semacam tak efektif dan efisien.

Saya marah kepada teman-teman angkatan SMU dan Jurusan. Mereka sungguh konyol. Teman-teman SMU meributkan yayasan angkatan untuk membantu murit-murit yang terkena imbas RSBI SMU Kami, tapi mereka tak sadar bahwa angkatan sendiri pun belum terurus. Angkatan saya di jurusan masih terjebak ilusi masa silam. Masih menyebalkan juga.

Lalu saya marah kepada keadaan, lalu marah-marah lain lagi.

Saya pemarah. Dan saya galak. Kata Broer, si makhluk tua di sanggar-sanggaran puisi saya lebih galak daripada istri orang yang mengamuk karena suaminya terambil. Hailaaah. Saya pun sempat marah melihat anak-anak sasanggaran itu. Karena, mereka sungguh konyol. Mana ada itu idealis cuma makan nasi dengan garam. Idealis saya ya idealis narsis. Harus ada upaya untuk mewujudkan idealisme di tengah kebingungan menjadi makhluk komunal berjenis manusia.

Saya kadang merasa terlalu marah hingga menangis. Tapi, hidup terlalu singkat jika hanya bersikap dan bertindak seperti bocah atau ABG Labil.

Ya sudah. Mengingat saya sudah masuk ke usia dewasa awal, maka saya harus lebih bisa menjalani hidup dengan lebih baik. Mungkin, saya telah begitu jauh berkembang di bandingkan hal-hal yang membuat saya marah.

Tapi, jika memang pemarah bisa dianggap sebagai sebuah ciri khas, maka saya tetap akan rajin ngomel kalau begitu. Hahaha...

Oke deh. Salam kepada Dunia Blogspot. Sungguh keren... Betapa teknologi memang menyenangkan, membantu. Jika menjadi negatif, ya tolol aja yang memakainya.

Nah kan, saya mulai sewot lagi. Tau sewot? Sewot itu marah...

Sudah ah.

Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang melakukannya. Semoga tetap Indonesia, apa pun kewarganegaraannya. Dan semoga, kemarahan yang ada menjadi lebih baik lagi pelampiasannya. Wow, sungguh terkesan reliji. Hailaaaah



Kamar Kos, Bandung 26 Agustus 2010

NB : Dengan kepribadian nama bergelar, saya sedang kerja praktek. Maka saya saat ini kos hingga kira-kira bulan oktober. Ini lokasi di Margacinta, Bandung *Pelosok, alias jauh dari hingar-bingar kehedonan... Halaaah...*