Wednesday, 1 July 2020

Karena Cinta Itu Hal yang Mewah

Ibadah Menulis Penghabisan ~ masih edisi Cerita Eksperimental


"Izinkan aku mencintaimu..."

Belum sempat kuteruskan, dia sudah menyanggah perkataanku.

"Memangnya cinta itu sejenis kegiatan keramaian warga? Minta izin segala?"

"Ini aku mau romantis, ini..." sahutku sambil nyengir, merasa kikuk... kikuk-kikuk.

Tak kusangka, dia tertawa.

"Trus, gimana?" tanyanya terkekeh. Masih tersisa senyuman mengejek di wajahnya. Menyebalkan. Kenapa dia menarik sekali.

"Ya, ga gimana-gimana sih..." jawabku meninggalkan jeda.

"Gitu?" Dia kembali memberiku tanya.

Aku terdiam selama sekian puluh detik, hingga ketika kulihat tanda dia akan berlalu dari hadapanku.

"Aku boleh ga, sayang-sayangan sama kamu?" seruku dengan pertanyaan yang segera kusesali. Kusesali karena malu.

"Tapi aku lagi sayang-sayangan ama skripsi."

"Oh..." tergagap aku merespons.

"Ya udah, ayo!" ucapnya mengejutkanku.

"Ayo apa?"

"Ya ayo, kita sayang-sayangan."

Demikianlah kami, para mahasiswa baik-baik ini, menempuh kehidupan bersama skripsi, dengan sayang-sayangan secara baik-baik.

Misalnya ngapain?

Bantu-bantu memeriksa ketikan. Bergantian, saling sediain makanan. Memantau pergerakan tukang jilid, dan aktivitas mulia fotokopian. Jadi alarem, alias meninggalkan jejak panggilan tak terjawab di ponsel hingga puluhan. Karena YBS Yang Bersangkutan tidurnya macam kenak bius gajah. Gak aku, gak dia. Ya, cium-cium dikit laaaaaah. Bonus. Namanya anak muda.

Kami berpisah baik-baik, mengingat kami memulainya dengan baik.

Dia akhirnya bekerja di kota besar. Aku kembali ke kampungku.

Hingga suatu hari aku bertemu kembali dengannya di kota besar tempatnya melanjutkan perantauan.

"Heiiiiii..." sapanya.

"Lho, kok ada di sini?"

"Tugas negara."

"Kok bisa?"

"Iya bisa, dong. Aku sekarang jadi sekretarisnya Bu Dewi. Kebetulan perlu nge-lobi Bapak XXX. Sekalian repotnya."

Segera dia melirik tajam padaku.

"Bukan nge-lobi yang gimanaaaaa gitu ya..."

Aku menggelengkan kepala. Kemudian, "Bu Dewi yang itu? Woooooow...." Sambil masih terkagum-kagum padanya, aku melanjutkan, "Aku ke sini sebagai perwakilan ..."

Kembali dia menyalip ucapanku. "Hm! Pemuda desa penuh dedikasi. Aku setuju, dana desa seharusnya lekas cair. Perekonomian merata, seharusnya bukan omong kosong yang perlu dirapatkan di aula hotel megah kayak gini, kan?"

"Kamu..." Jeda panjang mengakhiri ucapanku.

"Ya. Aku. Dah gak ada waktu bagiku... untuk kembali ke tanah kelahiran. Dan seterusnya dan seterusnya."

Aku hanya memiringkan kepalaku, bingung.

"Mau ekonomi syariah, mau ekonomi kapitalis, mau ekonomi Adam Smith, mau ekonomi desa, mau apa terserah. Aku ingin posisi yang tinggi, dan lebih tinggi. Jadi perempuan tidaklah terlalu menyenangkan, di kota kecil. Semua yang aku inginkan dihalangi omongan orang dan gosip tetangga sekitar."

Aku kembali memiringkan kepalaku. Masih bingung.

"Misalnya kapan kawin." ucapnya tanpa tedeng aling-aling.

"Aku belum nikah, lho..." sahutku, untuk kemudian kembali menyesal. Karena malu.

"Emang nanya?" balasnya. Senyuman mengejek itu kembali muncul.

"Tapi gak usah ngajak sayang-sayangan lagi, ya!" Segera dia menambahkan ucapannya.

Kami berdua tertawa. Dia tertawa puas, aku tertawa kecut.

Sambil sama-sama bergeser mencari makanan, aku nyeletuk sekenanya.

"Aku ingin menikah, punya anak, lalu menua, lalu mati. Sederhana banget ya, cita-citaku."

"Ya kenapa, engga? Tapiyaaaaa, kirain mau bikin pertanian terintegrasi dulu sebelum mati." Dia merespons santai.

"Itu juga, sih. Tapi kan bisa sambil menikah dan punya anak."

"Keren, itu." Lagi, dia merespons santai.

Kami sudah mulai siap-siap mengambil makan siang jalur prasmanan, saat matanya melihat ke belakang kepalaku.

"Si Bapak lewat, dong! Ke dia dulu, yak! Itu tadi kartu nama, nanti aku kirim kontak pribadi. Akhir bulan depan, kontrak selesai. Sebelum lanjut, mau ke timur dulu. Muter. Nanti di Madura, tolong dikawal, okheeeeei?"

Tanpa menunggu respons apa-apa dariku, dia sudah menghambur pergi. Kulihat punggungnya seiring dia melangkah cepat-cepat.

Sejak saat itu, aku dan dia hanya bertukar pesan seperlunya.

Dia sibuk, aku lebih sibuk. Sibuk menjadi seonggok jagung)* di desa.

Sayangnya, dunia lebih dahulu diriuhkan oleh wabah global akibat virus korona daripada kedatangannya di Madura. Yasudahlaaaaah. Di sini termasuk berbahaya juga.



=== Jembatan Suramadu dalam Ingatan,
di peralihan hari dari 30 Juni ke 1 Juli, 2020 ===


catatan kaki:

yang bertanda bintang dimaksudkan pada sebuah puisi oleh W. S. Rendra: Sajak Seonggok Jagung. bisa dilihat di sini: https://normantis.com/2016/06/28/seonggok-jagung-di-kamar-puisi-ws-rendra/ ~ atau versi audio di sini: https://www.youtube.com/watch?v=wsiC-8sOmVQ

Labels: , ,

Tuesday, 30 June 2020

Sebab Yang Diperlukan Hanyalah Sedikit Perhatian

hari dua puluh sembilan



Akhirnya kuputuskan untuk kirim balasan pesan padanya, lagi.

"Jangan mati cepet2 yha. Nanti ngurang lagi orang yang bisa diajak ngobrol. Mosok aku harus ngobrol lagi ama pot kembang."

Masih belum ada balasan.

Namun rupanya ada balasan darinya saat aku tertidur.

"Nanti kalo kamu matik cepet gimana? Kan kita belum jadi makan jamur."

Aku tersenyum melihat pesan itu.

Segera kubalas lagi dia.

"Oia, yah! Aku baru ingat bahwa aku nggak immortal."

Dan pagi itu terasa lebih menyenangkan dari biasanya. Aku siap kembali menembus hiruk-pikuk belantara manusia ke tempat kerja dan di tempat kerja.



=== Dekat Pohon Mangga,
di pergantian tanggal 29 ke 30 Juni, 2020 ===

Labels: , , ,

Sunday, 28 June 2020

AkHIRNYA

hari dua puluh delapan ~ masih sesi #cerita #eksperimental



"Kok gak menang lomba sih?! Kalah kamu. Bikin Mama malu.

"Iya, Ma." sahut si bocah pada perempuan muda di depannya.

Perempuan muda yang dipanggilnya Mama memarahinya habis. Si bocah hanya diam. Walau beberapa hari sudah berlalu, Sang Mama tetap mengungkit kekalahan dalam lomba. Namun, semuanya berubah di hadapan sejumlah orang yang dipanggil teman-teman oleh Sang Mama.

Acara lomba lain lagi.

Dan kekalahan lain lagi.

Kali ini, bonus nilai di sekolah.

Meskipun demikian, kali ini pula ada yang berbeda.

"YA KAMU JADI ISTRI KERJANYA NGAPAIN AJA?!" Suara seorang laki-laki bertubuh tinggi besar memenuhi ruangan.

"KAMU LIHAT, KAN? GARA-GARA KAMU, PAPA KAMU MARAH. MARAHIN MAMA!" Suaranya sama-sama memenuhi ruangan.

Tidak pernah ada pukulan atau kekerasan fisik lain, seharusnya itu baik-baik saja bukan?

Hari-hari berlalu dengan tenang. Diselingi adegan-adegan seperti sebelumnya yang terus berulang. Tak boleh ada kekalahan, kekurangan, kesalahan, dan semua yang membuat Sang Mama malu. Semua yang membuat Sang Papa marah besar pada Mama.

Hari-hari berlalu dengan tenang. Diselingi adegan-adegan seperti sebelumnya yang terus berulang. Meskipun kali ini, ada suara-suara asing bagi si bocah. Tangisan.

"Mama..." si bocah memanggil perlahan. "Papa..."

Tak ada yang menghiraukan si bocah.

Si bocah, tersenyum bahagia. Karena walau dia tak dihiraukan, tetapi suara tangisan Sang Mama dan Sang Papa kali ini memenuhi ruangan alih-alih teriakan saling membentak dan teriakan-teriakan yang membentaknya.

"Kamu ini gimana jadi istri? Aku sudah bilang, asuh anak itu yang bener..." suara pria tinggi besar itu kali ini terdengar pilu. "... tapi kok malah jadi gini?"

"Mana aku tau kalau dia bakal lari-lari dari sekolahnya ke jalanan besar di sana?"

"Mama..." si bocah memanggil perlahan. "Papa..."

Si bocah, tersenyum bahagia. Seraya melambaikan tangan.

Kelak bocah ini, akan menemani setiap anak kecil yang senantiasa tak dihiraukan. Setiap anak kecil, yang kehadirannya hanya untuk kebahagiaan semu.


== Halaman Rumahmu, 28 Juni 2020 ==

Labels: , ,

Malam Minggu di Pojok Dapur

Ibadah Menulis dua puluh tujuh ~ #cerita #eksperimental #realisme



“Sini, bantuin! Keburu Ibuk ama Bapak pulang nanti.”

Seiring senja berlatar kompetisi azan magrib di luar sana, Nyai memanggil.

“Bentar, masih bikin cerpen ini… dikit lagi.” bantahnya pada Nyai.

“Anak emang suka kurang ajar ama orang tua. Disuruh bantu-bantu malah melakukan hal gak guna. Gue yang udah nenek-nenek gini masih harus kerja bakal ngidupin elu.”

Ditinggalkannya corat-coret kertas yang sedari tadi direnungkan dalam-dalam.

“Kadang kasianama Ibuk ama Bapak. Capek-capek kerja, tapi gak ada anak di rumah ini.” Nyai nyeletuk sambil sibuk merapikan meja makan.

“Tapi ada anak gak ada duit juga buat apa? Gak bisa nyekolahin elu, tong!” lanjut Nyai sambil ngegeplak kepalanya dengan serbet.

Dih. Geplak palanambah bodo, ntar!” serunya sambil menghindar, tetapi tak berani sebab takut kuwalat.

Kayak cucu tiri, ih!” serunya lagi. Kali ini sambil mengusap kepala dan merengut manja.

Lhah, serbet doang ini?!” hardik Nyai.

Beberapa puluh menit kemudian, Ibuk dan Bapak pulang. Mereka menyapa sambil lalu. Kemudian mereka makan malam bersama di meja makan. Nyai selalu menolak, dan menghalangi; setiap kali diajak bergabung untuk makan bersama Ibuk atau Bapak atau keduanya. Harus tahu diri, demikian Nyai senantiasa berpesan.

“Mbah Pur, sekarang malam minggu. Yudhis gak mau malam mingguan, gitu?” tanya Ibuk sambil merapikan bekas makan malam mereka. Tepatnya, menggeser peralatan bekas makan ke wastafel tempat cuci piring.

“Oh, nggak Buk. Ini Yudhis malah mau tanya…”

Nyai melirik ke arah cucunya, memberi gestur untuk mendekati meja makan Ibuk dan Bapak. “Yudhis, itu… Ibuk tanya.” lanjut Nyai.

Dilakukannya yang diperintahkan Nyai, lalu dijelaskanlah semua maksudnya itu sambil terbata-bata. Bukan karena takut, melainkan karena sedikit rasa malu tapi butuh mulai membuncah dalam dada.

“Oh. Festival sekolah? Jadi… maunya pertunjukan teater aja?” sela Bapak sambil melirik Ibuk.

“Iya, Pak. Buk. …” aku tak melanjutkan ucapanku.\

“Kalau nilai-nilai UTS nanti bagus-bagus, Ibuk gak akan nagih utang. Kalau jelek, potong dari uang jajan tiap minggunya ya Yudhis. Deal?” Ibuk menawarkan perjanjian padaku.

Dia mengangguk mantap.

Okedeh. Ini, dua ratus ribu aja dulu. Cukup? Buat biaya ekstra yang kamu tadi jelaskan?” Bapak berkata seraya menyerahkan dua lembar uang merah dari dompetnya.

Kembali dia mengangguk mantap.

“Mbah Pur kalau mau istirahat duluan, gapapa. Biasa, malam minggu. Yudhis kalau mau malam mingguan, uang yang tadi jangan dipakai sembarangan ya? Kan tadi janjinya buat apa?” Ibuk berkata seraya mengacungkan telunjuknya.
Lagi, dan lagi. Dia hanya menjawab dengan anggukan kepala.

“Oia, Mbah Pur. Yang bocor di paviliun, nanti suruh Mang Jum panggil tukang. Beresin. Besok.” Ibu menambahkan, tapi untuk Nyai.

Akhirnya, kediaman super besar ini kembali ditinggal oleh Ibuk dan Bapak.

Sebelum beranjak hendak ke paviliun dekat kebun tak bertuan di ujung area rumah besar ini, Nyai memberi cucu satu-satunya itu ceramah; seperti biasa setiap ada adegan Ibuk atau Bapak kasih duwit.

Baek-baek, elu jaga janji ama Ibuk ama Bapak. Bagus bener, biaya SMK elu ditanggung Ibuk ama Bapak. Orang-orang di luaran sana, cuma bisa ngomongin mereka. Ujung-ujungnya, belum tentu jugak ada yang peduli.”

Nyai melanjutkan ceramahnya sebelum menutup pintu belakang yang mengarah ke paviliun sono.

Ama anak miskin yang gak punya orang tua, ngapain sih harus repot-repot. Nah. Eluuuu. Harus bisa lulus SMK, biar ga pait nanti idup pas gue nyusul anak ama menantu gue ntar.”

Idup syape?” tanya sang cucu gak penting.

Idup elu, lah. Kan gue sih bentar lagi juga matik, dah nenek-nenek gini.” sembur Nyai sambil menutup pintu.

Namun, beliau kembali membuka pintu hanya untuk bertanya, ”Ini benerangak malam mingguan? Trus, mau napain?”

“Nonton TV, dong! Sayang ini, ada TV Kabel tapi TV jarang dinyalain Ibuk ama Bapak!” seru satu-satunya anak di bawah umur itu sambil menyeringai lebar. Bahagia doooong, pegang duit dua ratus ribu gitu, lho!

Nyai akhirnya serius pergi. Maksudnya, ke paviliun.

Si anak SMK yang dipanggil Yudhis itu sejenak melihat coret-coret yang tadi tak tuntas. Ditinggalkannya coret-coret untuk cuci piring, dan merapikan yang tersisa usai Nyai pulang ke paviliun.




== Dekat Dispenser, 27 ke 28 Juni 2020 ==

Labels: , ,

Saturday, 27 June 2020

Karena Orang Tua

Ibadah Menulis ke-26 edisi sekumpulan kisah super pendek antitesis.


#fragmen 1
“Kamu tega meracuni adikmu sendiri? Umurnya masih lima tahun!” hardik perempuan di hadapanku. “Kata siapa dia adikku? Hanya karena Anda, menikah dengan Ayah? Tunggulah sebentar lagi. Anda tertidur untuk selamanya.” Kuberi jeda pada perkataanku sambil tersenyum, “Jangan harap hartanya dapat Anda nikmati. Terima kasih.”
[ 50 kata ]

#fragmen 2
“Bagaimana dengan keuntungan bagianku?” tanya perempuan muda di seberang meja makan malam romantis kami. “Kebebasan dan status sosial, dengan label istri. Juga uang bulanan dan uang lain-lainnya. Dalam lima tahun, baru kita boleh cerai. Tapi aku perlu anak yang mewarisi genku. Kamu pun akan dapat kompensasi balasan untuk itu.” jawabku dengan lengkap. Dia menyalakan rokoknya, lalu menghembuskan asapnya perlahan. Jadi, aku harus menambahkannya lagi, “Dan jangan merokok di ruang publik, juga nanti saat hamil. Sembunyikan kebiasaan itu.” Dia melirik sinis padaku, lalu kembali bertanya, “Bagaimana dengan posisiku di perusahaan gabungan kita nantinya?”
[ 100 kata ]

#fragmen 3
“Kenapa kita tidak Nikah Siri saja?” tanyaku padanya. “Kawin lari? Biar apa? Hanya biar tidak jadi omongan orang? Agar aku bisa kau pamerkan sesukamu? Percuma. Aku tidak mendapat keuntungan apa-apa dari Nikah Siri. Hanya hukum negara, yang bisa membantuku selamat dalam pernikahan.” balasnya panjang kali lebar kali tinggi, jadilah volume. “Tapi orang tua kita sama-sama tidak sepakat, kan? Terus, maumu bagaimana?” tanyaku lagi. “Ya tidak bagaimana-bagaimana. Kalau kamu memang ingin beli rumah, ya beli saja. Beli rumah kan tidak perlu harus menikah. Kalau aku ada uang ya aku mau membeli rumah sendiri.” Kembali dia menjawabku, tetapi kali ini ada bayang-bayang kilau air di kedua bola matanya. “Tidakkah cinta cukup bagi kita untuk bersepakat bersama?” tanyaku masih bertahan. “Kalau hanya untuk mengganti status anak perempuan dengan status istri, aku perlu lebih banyak waktu untuk berstrategi.” sahutnya lirih tapi tegas.
[ 150 kata ]



=== Pojok Kamar dan Segala Antitesis Normatif di Dalamnya,
tanggal 26 menuju 27 Juni, 2020 ===

Labels: , ,

Thursday, 25 June 2020

BULAN SABIT

Ibadah Menulis di Sepanjang Juni sesi ke-25

(sebuah cerita tentang dongeng omong kosong)


Mulai temaram. Sebentar lagi, pasti gelap. Namun, perpaduan semburat oranye membara dan warna biru gelap di langit yang hanya berlangsung singkat ini senantiasa indah untuk dinikmati.
Senja, seperti yang sekarang terlalu banyak disebut jutaan orang di perlbagai platform media sosial, sudah menjadi kesukaanku sejak lama.
Kesambet, ntar! Balik, yuk!” ucap sebuah suara yang mendekat.
Eits! Jaga jarak aman!” balasku seraya mengangkat kedua lenganku dengan gestur berupa penolakan.
“Sebentar lagi tahun ajaran baru…” sahutnya dengan jeda panjang di akhir kalimatnya, membuatku mudah untuk menyelanya.
“Iya, teruuuuuus.” balasku sinis.
“Kita kapan naik gaji, yak?” tanyanya dengan mata menerawang.
“Kalau penjualan meningkat?” jawabku dengan tanya.
“Sebenarnya menteri kita ini, jadinya keputusannya gimana sih?” tanyanya lagi, seperti yang tak menghiraukan responsku sebelumnya.
“Kabarnya, kita ada perpanjangan waktu satu semester. Kabar lain lagi sih, bulan Juli nanti semuanya kembali seperti sedia kala.” jawabku sambil menoleh melihatnya.
“Lho?! Nanti kita kunjungan ke sekolah lagi, kayak sebelum korona-koronaan ini?” tanyanya lagi. Kali ini, dia ikut menoleh. Memandangku. Kami saling bertatapan sejenak.
Tenang, ini bukan cerita cecintaan apalah-apalah. Ini hanya cerita tentang omong kosong, di antara dua orang yang membicarakan omong kosong.
“Nanti kita pakai APD?” lanjut dia berkata, saat kami masih saling bertatapan.
Akhirnya kami berdua sama-sama mlengos, memalingkan muka masing-masing.
“Ya enggak lah, ghobloq…!” sergahku tajam.
Trus, kita nanti gimana?” Dia memutar badannya sekitar empat puluh lima derajat, dengan aura gestur yang memancar berupa paksaan, agar ikutan memutarkan badanku juga sekitar empat puluh lima derajat berlawanan arah.
“Ya kita bawa laptop, dan bahan presentasi. Proposal penawaran tentu saja. Dan seterusnya, dan seterusnya.” jawabku. Kali ini aku tak tahan untuk tak noyor kepalanya.
“Aku jangan … kamu ini, jangan noyor-noyor gini, dong! Nanti kalau aku tambah bego, gimana?” rengeknya setelah kutoyor kepalanya tadi.
Aku menghela napas lalu menengadah menatap langit yang sudah gelap. Malam sudah seutuhnya datang. Terlihat penampakan bulan sabit.
“KITA KAN JUALAN BUKU PELAJARAN IMPOR. YA GAK ADA URUSANNYA SAMA KOSTUM APD!” seruku kesal.
“Kamu resek kalau lagi baper. Nasi goreng Mang Aep yang biasa, yuk!” bujuknya sambil mengedip-ngedipkan mata semakin membuat kesal.
“Bayarin, nggak?” Tak mau kalah dengannya, aku balas merajuk.”
“Kita ini mau jadi apa? Sama-sama miskin, kok malah minta traktir-traktir? Gak ada!” sahutnya ketus.
Kami melangkahkan kaki ke Nasi Goreng Mang Aep yang jaraknya hanya sekitar lima ratus meter.
Kulihat bulan sabit yang tadi, mengiringi perjalanan kami.
Mengiringi omong kosong kami.
Mengiringi keluh kesah khas, milik orang-orang yang berjibaku dengan target penjualan.



[ neto 440 kata, menurut perhitungan Word Count ]

=== trotoar dalam ingatan, 25062020 ===

Labels: , ,

Wednesday, 24 June 2020

Inilah Caraku Mengingatmu

#IbadahMenulis Ke-24 Beercerita Ke-23 sebab yang pertama hanyalah ocehan tentang Bulan Juni yang legendaris



[ November Tahun 2019 ]


"SINI, DOOOONG. CEPETAN! PIZA EBIRA, CUS!"

Aku menjauhkan ponsel dari telingaku.

Sambungan ponsel terputus. Namun, bunyi notifikasi langsung plentang-plentung saling bersahutan membuat bising.

Pesan dari layanan LINE-Chat darinya mbrudul bertaburan. Lengkap dengan stiker menggemaskan, memohon agar aku memenuhi permintaannya.

Bir gratis, pikirku. Kenapa tidak. Sampai kemudian aku ingat, kalau salah seorang di antara kami mabuk berat, berarti alamat repot urusan memulangkan mobilnya.

Sesampainya di sana, dia merengkuh pundakku memeluk. Kami lalu duduk di tempat masing-masing, menikmati bir dingin dan pertunjukan musik Live Show.

"Pacar aku... main... tapi anak-anak kantor masih pada miting..." ucapnya dengan suara pelan sambil wajahnya mendekat ke arahku. Kemudian, sambil tertawa dia melanjutkan, "hahahhaa gimana doooong! Pacar manggung, masak aku rapat! Kan kesel, yak!"

Tempat itu riuh, salah satunya karena musik. Orang-orang saling mengobrol, aku merespons sekenanya.

"Kamu kenapa judes banget, ih?! Kalo ada yang oke, ambil siiiiiih...!" sahutnya sambil menoyor bahuku dengan bahunya. Kubalas dia dengan cubitan di pipi. Lalu, aku kembali asyik teriring suasana ala kehidupan kota besar dengan segala gelisah di baliknya.

Aku semakin tenggelam menikmati musik jeda, karena band sedang istirahat.

November Rain. Guns 'N Roses.

Sudah jam bubar. Kulirik jam di ponselku. Kulihat angka 00.24 di layar.

Akhir dari pertemuan transaksional ini adalah dia mabuk lumayan, dan aku masih baik-baik saja dengan beberapa gelas bir dingin. Di Indonesia, belum pernah ada kejadian di mana yang nyupir dalam keadaan habis minum bir kena tilang. Yang penting, jangan buat kecelakaan kan? Sebenarnya ini bertentangan dengan kebiasaanku tetapi karena sogokan darinya, aku melanggar diriku sendiri.

Dia memintaku lewat studionya. Sudah kuduga, dia pasti ingin tidur di sana.

Aku tiba-tiba merasa bosan dengan kamar kontrakanku di sudut gang miskin di pelosok sudut dekat kampus. Kuputuskan untuk ikut tidur di sana.

Keesokan paginya, "KOK KITA DI SINI?"

"Sadar, bego. Kamu skip semalam."

"OIA, AKU LUPA!" balasnya sambil tertawa, lagi.

Aku meregangkan badanku sambil celingukan untuk geratakan mencari minum.

"Kopi AROMA ada di pojok situ, aku umpetin. Kamu ih kayak kuli, minumnya kopi item." Seperti membaca pikiranku, dia berkata seraya mengarahkan telunjuknya ke sudut yang dimaksud. Aku menyeduh kopi, dan dia pergi ke kamar mandi.

Bila di media sosial ada tagar-tagar goal apalah entahlah apalah-apalah, mungkin menaruh bubuk kopi kesukaan di studio temanmu termasuk salah satu dari friendship goal apalah itulah entahlah. Mungkin.

Ini hari Minggu, dan di genggaman tanganku ada secangkir kopi panas membara seperti cinta yang tak kasat mata. Betapa indah kehidupan bila dimulai dengan kebebasan dari kewajiban duniawi bangun super pagi untuk berjibaku mencari duit di belantara kota.

Dia kembali dari kamar mandi dengan masih ada sisa tetesan air dari wajahnya.

Kusodorkan tanganku, menengadah padanya. Dia melempar sekotak rokok yang masih tersegel rapi dari tasnya dan sebuah Cricket. Rokok kesukaannya. Kunyalakan rokok, kuberikan padanya. Dia menyesapnya dalam-dalam. Aku lantas membakar satu lagi untuk diriku sendiri.

"Kamu gak mau tanya-tanya apaaaaa, gitu?"

"Sejak kapan aku nanyak-nanyak? Memangnya aku polisi, hobinya interogasi?" balasku santai.

"Pacar mau nikah. HAHAHA! Beda tuhannya, jadi aku ama dia ga bisa lanjut. HAHAHA KASIAN IH AKU."

Aku hanya menoleh, menatapnya.

"Udah tau. Semalam siapa ya, yang nangis? Meraung-raung. Untung gak muntah-muntah. Repot, ntar." sahutku sambil tersenyum iseng.

"HAHAHAHAA BANGSAT AKU MABUK TERNYATA...!" dia membalasku dengan tawa dan seruan.

Dia lalu mengulang ceritanya dengan lebih rapi, tinimbang semalam. Sambil mengakhiri dengan, "Jangan! Jangan kasih aku omongan yang berat-berat. Aku pusing, gak mau mikir. Ini aja, studio, aku suetressss! Ada ya, orang bikin usaha Wedding Organizer, tapi gak kawin-kawin. ADAAAAAA!"

Kami berdua tertawa bersama.

Setelah itu, lama sekali kami tak saling bertemu untuk sekadar melakukan kebodohan. Seperti yang konon katanya, biasa dilakukan anak muda. Walau kami, gak muda-muda banget sih. Sibuk masing-masing. Dia sibuk dengan kehidupannya, aku pun demikian.

"Kita ini, kudu kawin. Kalau engga, nanti tetangga, saudara, dan semua orang. Pada ribut nanyain dan ngedoain. Mending ngedoain, ngomongin sih iya!" katanya suatu ketika.

"Karena kita terlahir perempuan di negeri ini?" balasku kala itu.


[ Juni Tahun 2020 ]

Wabah zombie korona meramaikan dunia. Aku sendiri tak mudik tak pulang kampung. Bertahan sebisanya, terutama dengan kesibukan klasik khas manusia umum: cari duit dan bertahan hidup.

Namun, tidak dengannya.

Bulan-bulan berlalu, termasuk masa-masa di mana Pembatasan Sosial Berskala Entahlah diberlakukan.

Lalu di suatu hari yang tak kalah entahlah, kulihat kabar di lingkaran pertemananku dengannya di media sosial.

Sejak itu, beberapa hari berlalu dengan mencekam. Hingga suatu hari, hari di mana badai menyambanginya. Menyambangi mereka yang akhirnya kehilangannya.

Sesampainya di rumah sakit, aku buru-buru mencari ruangan ICU yang ditempatinya. Kulihat ada orang tuanya, adiknya, dan beberapa orang yang juga kukenal baik. Kami berteman, dan kami berbagi teman.

Mereka semua sudah dipenuhi tangisan; setidaknya isakan, rintihan, wajah sembab, dan sisa-sisa air mata memenuhi wajah-wajah di sekitarku ini.

Ternyata aku terlambat. Setelah dirasa aku tak ada gunanya bila berlama-lama di sana, aku pulang.

Malam itu, pecah sudah. Tak dapat kuingat, kapan terakhir aku menangis sedalam ini.

Dan di sinilah aku, pagi ini.

Aku turut dalam iring-irangan yang mengantarnya. Ritual pemakaman berlangsung sebagaimana seharusnya. Lengkap dengan doa-doa yang bertaburan.

Gelombang kesedihan menyerbu, lagi. Aku merutuk dalam hati.

'Gak sopan! Kamu bikin aku nangis dari kemarin. Semalam, dink!'

Semua yang mengantarnya terlihat sibuk, entah apa yang masing-masing orang pikirkan. Yang kutahu, orang bisa menangis kehilangan bila ada memori tentang dia yang pergi.

Pergi karena berpisah alam.



Kamar dalam Rumah, 2462020

Labels: ,